Jumat, 14 November 2008
Ornamentasi dalam Arsitektur: The Ugliness of Beauty and the Beauty of Ugliness
arsitektur.net
Dalam keseharian, kita sering mendengar kata beauty dan ugly. Beauty selalu dimaknakan dengan yang indah-indah dan mempesona, sesuatu yang diharapkan, selalu diusahakan untuk dicapai. Sedangkan ugly sering dimaknakan sebagai sesuatu yang bersifat sampah, perlu dihindari dan dibuang jauh-jauh. Pemaknaan beauty dan ugly ini juga seringkali ditemui dalam dunia arsitektur. Arsitek berlomba-lomba membuat arsitektur yang beautiful, megah, mewah. Karena lapangan pekerjaan arsitek bukanlah pekerjaan yang rendah hati dan sederhana, selalu ada kecenderungan untuk menjadi ‘lebih’ bahkan ‘berlebihan’.
Arsitek kerap kali meninggalkan kebalikannya, arsitektur yang ugly. Padahal bisa jadi, ugly adalah sesuatu yang ordinary, sesuatu yang melekat erat dalam keseharian kita, ruang dimana kita hidup dan tinggal. Ugly memang tidak selalu berupa sesuatu yang sederhana, bisa jadi ugly adalah sesuatu yang sifatnya tinggi hati (berlebihan). Jika arsitek yang bersifat tinggi hati menginginkan membangun karya yang beautiful, apakah karyanya juga dapat dikatakan ugly? Pengertian ugly dan beauty di sini menjadi kabur.
Beauty, menurut filsuf Immanuel Kant, tergantung pada kualitas subjektif dan objektif. Dalam mempertahankan argumennya, Kant mengatakan , “the judgement of taste, therefore, is not a cognitive judgment, and so not logical, but is aesthetic - which means that it is one whose determining ground cannot be other than subjective". Kant juga menambahkan, bahwa bila ada seseorang menyebut suatu objek yang indah, “he judges not merely for himself, but for all men, and then speaks of beauty as if it were a property of things." Beauty dan ugly seperti yang dikatakan Kant, tergantung persepsi masing-masing orang. Penilaian manusia terhadap keindahan dan kejelekan berbeda-beda (subjektif). Namun kadangkala terdapat persamaan persepsi antara manusia dalam menilai suatu objek itu bagus atau jelek (objektif).
Pada “Something Else" Exhibition, saya mendapat kesempatan untuk membuktikan apakah inversi yang saya lakukan terhadap sandal jepit ‘biasa’ (dan cenderung dinilai ugly oleh banyak orang) menghasilkan pendapat yang sama bagi setiap orang, yaitu beauty. Berikut ini adalah deskripsinya.
Sandal jepit karet merupakan benda biasa yang sering kita jumpai dan kita pakai. Sandal ini dikenal karena kesederhanaannya, baik dalam bentuk maupun dari materialnya. Bagi sebagian orang, memakai sandal jepit ini sudah menjadi kebiasaan, misalnya dipakai keluar rumah ketika sedang bersantai, dipakai ke pasar tradisional, atau dipakai ke kamar mandi. Laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, semua orang pada dasarnya dapat memakai sandal ini. Sederhana dan nyaman dipakai, adalah alasan mengapa sebagian orang tidak pernah meninggalkannya. Tetapi sebagian lagi menganggap sandal ini hanya sandal murahan dan jelek. Sandal jepit ini pada dasarnya berwarna putih dengan kombinasi warna kuning, dengan merk sandal pada bagian ‘tali’nya. Biasa saja bukan? Tak ada yang istimewa. Kemudian, saya menambahkan ornamen berupa payet-payet berwarna emas di bagian sandal yang berwarna kuning. Hasilnya? Terciptalah kesan glamor, memukau orang yang melihatnya. Sandal ini mencoba menjadi extraordinary, dan seakan-akan dia berteriak “look at me!”.
Teriakan “look at me!” tentu bertentangan dengan konsep ordinary. Seperti yang dikatakan Berke (1997): “An architecture of the everyday may be banal or common. It does not seek distinction by trying to be extraordinary, which in any case usually results in a fake or substitute for the truly extraordinary. In its mute refusal to say “look at me”, it does not tell you what you think. It permits you to provide your own meaning.”
Saya juga melontarkan kalimat-kalimat yang mengajak pembaca untuk membayangkan bagaimana menggunakan sandal berornamen ini ke tempat-tempat atau situasi-situasi yang bertolak belakang. Misalnya digunakan oleh dosen saat memberi kuliah, tentu terasa aneh bukan? Intinya, proyek pameran saya ingin membuat sandal ini memiliki kesan indah tapi menjadi aneh dan asing bila digunakan.
Sesuai teori Kant, beauty tergantung pada subjek yang menilai, termasuk penilaian dari manusia berbeda gender. Apa yang dipikirkan perempuan tentang the beauty dari sandal ini berbeda dengan laki-laki. Semula, mungkin pendapat laki-laki maupun perempuan sama saja, laki-laki maupun perempuan sama-sama pantas untuk memakainya. Tapi kini, sandal ini lebih diinginkan perempuan daripada laki-laki, karena kesan beauty lebih akrab pada perempuan, sedangkan beauty yang dirasakan laki-laki menjadi asing, bahkan akan dibalik lagi menjadi sandal yang ugly.
Dari pengalaman “Something Else" Exhibition yang lalu, saya mendapati bahwa perempuan sangat menyukai sandal berornamen itu, bahkan ada yang menginginkan sandal itu menjadi milik mereka. Sebenarnya, yang saya ingin lakukan adalah membuat sandal ini menjadi sandal yang tidak diinginkan untuk dipakai. Ternyata, tidak berhasil pada perempuan.
Saya juga mendapati salah satu pengunjung berjenis kelamin laki-laki, berkomentar sambil menunjuk sandal ini, “wah, ini terlalu hebat”. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, “mungkin maksudnya, sandal ini terlalu heboh”. Karena saya sendiri menilai sandal berornamen itu belum cukup istimewa, sandal jepit berornamen seperti itu juga ada yang menjualnya (tapi tentu berbeda dengan sandal yang saya buat).
Tetapi, apa yang saya lakukan terhadap kasus sandal jepit itu merupakan sebuah jebakan. Jebakan yang mengarah kepada kepalsuan. Penambahan ornamen emas hanyalah manipulasi mata belaka. Adolf Loos pernah mengatakan, “ornament is a crime”. Seperti halnya manipulasi mata yang sering dilakukan oleh arsitek. Penambahan-penambahan ornamen semacam itu hanya make-up belaka. Arsitek berlomba-lomba mempercantik bangunannya demi kepuasan mata, mementingkan beauty dari segi penampilan saja. Dan sering kali arsitek kurang memikirkan pengalaman ruang yang dialami manusia di dalamnya.
Jangankan berlomba-lomba untuk menghiasi bangunan, bangunan tak berornamen pun sebenarnya telah membohongi kita dengan kepalsuan, usaha menutupi apa yang selama ini kita anggap jelek.
“Most of our walls are lies. You see a white wall, but what you are not seeing is the drywall or plasterboard under the paint, let alone all the chemicals that compose the paint. The drywall is itself a liquid element fused into a smooth granular surface… Between the studs snake mile after mile of electrical wires, telephone cables, air-conditioning or heating ducts and plumbing chases… when we are inside buildings we don’t see any of this incredible complexity.” (Betsky & Adigard, 2000)
“A building under construction is much more beautiful than when it is done,” said the architect Frank Gehry in 1978. That is because we believe that revelation of a thing is beautiful…The beauty of construction led Frank Gehry to design buildings that shows their studs, their wiring and their plumbing. (Betsky & Adigard, 2000) Hal ini mengembalikan kita kepada pemaknaan beauty. Selama ini sebagian besar dari kita hanya melihat beautydari kulit luarnya saja. Padahal, beautydapat dilihat dari pemaknaan proses yang rumit di dalamnya.
“Architecture may be ordinary – or rather, conventional – in two ways: in how it is constructed or how it is seen, that is, in its process or in its symbolism.” (Venturi, 1966). Arsitektur bisa saja berupa bangunan ‘biasa’. Bangunan yang biasa kita temui sehari-hari; sekolah, kampus, kantor, pasar, toko, dan sebagainya. Bisakah bangunan-bangunan ‘biasa’ ini dibalik menjadi sesuatu yang ‘luar biasa’? Pertanyaan inilah yang menjadi tantangan bagi seorang arsitek.
Mari kita lihat kasus Las Vegas, bangunan-bangunan yang terdapat di sana adalah bangunan yang ‘biasa’ dijumpai; hotel, restoran, bar, kasino, dan sebagainya. Tetapi menjadi sesuatu yang ‘luar biasa’ saat sign dan tema-tema berbeda bermunculan di tiap bangunan, ‘membungkus’ arsitektur yang ‘biasa’ menjadi ‘luar biasa’. “Main Street and Disneyland merge on a vast scale in Las Vegas, where the main strip is a themed versions of some other place. Behind the facades, the buildings are merely a form of the generic architecture that houses office buildings and apartment blocks” (Betsky & Adigard, 2000).
Papan-papan sign mendominasi jalan dan saling ‘bersaing’ untuk menangkap perhatian pengunjung. Papan-papan dengan berbagai bentuk mendominasi pemandangan. Sebagian orang menganggap fenomena itu merupakan yang uglykarena ketidakteraturan yang ditimbulkannya. Namun di sisi lain, papan-papan sign tersebut memberi makna beautyterhadap arsitektur.
“ … At night totally different environment is revealed, hidden by day, formed by
Teriakan “look at me!” tentu bertentangan dengan konsep ordinary. Seperti yang dikatakan Berke (1997): “An architecture of the everyday may be banal or common. It does not seek distinction by trying to be extraordinary, which in any case usually results in a fake or substitute for the truly extraordinary. In its mute refusal to say “look at me”, it does not tell you what you think. It permits you to provide your own meaning.”
Saya juga melontarkan kalimat-kalimat yang mengajak pembaca untuk membayangkan bagaimana menggunakan sandal berornamen ini ke tempat-tempat atau situasi-situasi yang bertolak belakang. Misalnya digunakan oleh dosen saat memberi kuliah, tentu terasa aneh bukan? Intinya, proyek pameran saya ingin membuat sandal ini memiliki kesan indah tapi menjadi aneh dan asing bila digunakan.
Sesuai teori Kant, beauty tergantung pada subjek yang menilai, termasuk penilaian dari manusia berbeda gender. Apa yang dipikirkan perempuan tentang the beauty dari sandal ini berbeda dengan laki-laki. Semula, mungkin pendapat laki-laki maupun perempuan sama saja, laki-laki maupun perempuan sama-sama pantas untuk memakainya. Tapi kini, sandal ini lebih diinginkan perempuan daripada laki-laki, karena kesan beauty lebih akrab pada perempuan, sedangkan beauty yang dirasakan laki-laki menjadi asing, bahkan akan dibalik lagi menjadi sandal yang ugly.
Dari pengalaman “Something Else" Exhibition yang lalu, saya mendapati bahwa perempuan sangat menyukai sandal berornamen itu, bahkan ada yang menginginkan sandal itu menjadi milik mereka. Sebenarnya, yang saya ingin lakukan adalah membuat sandal ini menjadi sandal yang tidak diinginkan untuk dipakai. Ternyata, tidak berhasil pada perempuan.
Saya juga mendapati salah satu pengunjung berjenis kelamin laki-laki, berkomentar sambil menunjuk sandal ini, “wah, ini terlalu hebat”. Saya hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, “mungkin maksudnya, sandal ini terlalu heboh”. Karena saya sendiri menilai sandal berornamen itu belum cukup istimewa, sandal jepit berornamen seperti itu juga ada yang menjualnya (tapi tentu berbeda dengan sandal yang saya buat).
Tetapi, apa yang saya lakukan terhadap kasus sandal jepit itu merupakan sebuah jebakan. Jebakan yang mengarah kepada kepalsuan. Penambahan ornamen emas hanyalah manipulasi mata belaka. Adolf Loos pernah mengatakan, “ornament is a crime”. Seperti halnya manipulasi mata yang sering dilakukan oleh arsitek. Penambahan-penambahan ornamen semacam itu hanya make-up belaka. Arsitek berlomba-lomba mempercantik bangunannya demi kepuasan mata, mementingkan beauty dari segi penampilan saja. Dan sering kali arsitek kurang memikirkan pengalaman ruang yang dialami manusia di dalamnya.
Jangankan berlomba-lomba untuk menghiasi bangunan, bangunan tak berornamen pun sebenarnya telah membohongi kita dengan kepalsuan, usaha menutupi apa yang selama ini kita anggap jelek.
“Most of our walls are lies. You see a white wall, but what you are not seeing is the drywall or plasterboard under the paint, let alone all the chemicals that compose the paint. The drywall is itself a liquid element fused into a smooth granular surface… Between the studs snake mile after mile of electrical wires, telephone cables, air-conditioning or heating ducts and plumbing chases… when we are inside buildings we don’t see any of this incredible complexity.” (Betsky & Adigard, 2000)
“A building under construction is much more beautiful than when it is done,” said the architect Frank Gehry in 1978. That is because we believe that revelation of a thing is beautiful…The beauty of construction led Frank Gehry to design buildings that shows their studs, their wiring and their plumbing. (Betsky & Adigard, 2000) Hal ini mengembalikan kita kepada pemaknaan beauty. Selama ini sebagian besar dari kita hanya melihat beautydari kulit luarnya saja. Padahal, beautydapat dilihat dari pemaknaan proses yang rumit di dalamnya.
“Architecture may be ordinary – or rather, conventional – in two ways: in how it is constructed or how it is seen, that is, in its process or in its symbolism.” (Venturi, 1966). Arsitektur bisa saja berupa bangunan ‘biasa’. Bangunan yang biasa kita temui sehari-hari; sekolah, kampus, kantor, pasar, toko, dan sebagainya. Bisakah bangunan-bangunan ‘biasa’ ini dibalik menjadi sesuatu yang ‘luar biasa’? Pertanyaan inilah yang menjadi tantangan bagi seorang arsitek.
Mari kita lihat kasus Las Vegas, bangunan-bangunan yang terdapat di sana adalah bangunan yang ‘biasa’ dijumpai; hotel, restoran, bar, kasino, dan sebagainya. Tetapi menjadi sesuatu yang ‘luar biasa’ saat sign dan tema-tema berbeda bermunculan di tiap bangunan, ‘membungkus’ arsitektur yang ‘biasa’ menjadi ‘luar biasa’. “Main Street and Disneyland merge on a vast scale in Las Vegas, where the main strip is a themed versions of some other place. Behind the facades, the buildings are merely a form of the generic architecture that houses office buildings and apartment blocks” (Betsky & Adigard, 2000).
Papan-papan sign mendominasi jalan dan saling ‘bersaing’ untuk menangkap perhatian pengunjung. Papan-papan dengan berbagai bentuk mendominasi pemandangan. Sebagian orang menganggap fenomena itu merupakan yang uglykarena ketidakteraturan yang ditimbulkannya. Namun di sisi lain, papan-papan sign tersebut memberi makna beautyterhadap arsitektur.
“ … At night totally different environment is revealed, hidden by day, formed by the electric illuminations where space is defined, not by buildings, but by artificial light. By analyzing the apparent chaos of Las Vegas, Venturi attempted to evolve a self-conscious design philosophy for an ‘ordinary’ and ‘inclusive’, popular modern architecture of decorated sheds with obvious ‘fronts and backs’ employing traditional signs and imagery” (Hellman, 1988)
Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, beauty tidak selalu tampak pada penampilan luarnya. Beautydapat terkandung dalam ugliness dan ugliness dapat terkandung dalam beauty. Arsitektur harus dapat menyingkap beauty dalam ugliness yang tersingkap.
Daftar Pustaka
Berke, D. (1997). Thoughts on the Everyday. Dalam Harris, S. dan Berke, D. (Ed.), Architecture of the Everyday. New York: Princeton Architectural Press.
Betsky, A. & Adigard E. (2000). Architecture Must Burn. California: Gingko Press.
Hellman, L. (1988). Architecture For Beginners. New York: Writers and Readers Publishing. Inc.
Kant, I. (1790). Critique of Aesthetic Judgement.
Minggu, 24 Agustus 2008
Rabu, 13 Agustus 2008
Selasa, 22 Juli 2008
Arsitektur Ideal: Di Antara Dua Polar
Jurnal Arsitektur Online
Estetika arsitektural akhir abad kesembilan-belas menyatakan bahwa eksistensi ruang menjadi esensi dari arsitektur. Pada awal abad kedua-puluh, beberapa trend artistik tertentu yang memahami kata-kata bijak kuno dari Timur (Lao Tzu) bahwa massa adalah abdi dari kekosongan, akhirnya sampai pada ketetapan akan dematerialisasi (peniadaan materi) terhadap soliditas massa. Yang tidak nyata justru menjadi hakikatnya, dan di-nyata-kan dalam bentuk materi (Tzu, 1991: 5-6).
Meskipun dari paragraf di atas kita melihat superioritas ruang yang di dalamnya, nyata juga bahwa arsitektur pada akhirnya harus mewujud. Berbicara soal arsitektur tidak akan terlepas dari realisasinya, dari gagasan menjadi bangunan. Berbicara soal ideal lalu paling tepat kalau diletakkan dalam kerangka proses itu, dan sesudahnya; dimana gagasan ideal memiliki bentuk untuk diapresiasi dan dinilai.
Pertanyaannya sekarang, apakah gagasan ideal dalam arstitektur itu bisa diwujudkan? ”Ideal” sebagai kata sifat (adjective) dapat berarti: 1) Being optimal or relating to the best option for something; 2) Being perfect, having no flaws or defect; 3) Being something that exist only in the mind; conceptual, ideational; Mary W. Shelley: “Life and death appeared to me ideal bonds” (Wikipedia, 2007). Dalam pikiran, mudah merumuskan yang ideal. Dalam perjalanan mewujud, mengambil bentuk, agar ruang esensi dari arsitektur dapat terindera, ideal kemudian selalu terentang diantara dua polar, terjebak dalam dikotomi kepentingan-kepentingan yang berbeda domain.
Utopis atau Kompromis?
Benar, arsitek selalu adalah leading consultant. Tapi arsitektur tidak pernah lahir dari tangan seorang arsitek sendiri saja. Dia selalu merupakan produk dari sekumpulan orang; pemberi tugas atau klien, arsitek , konsultan dari berbagai disiplin lain – struktur, mekanikal elektrikal, lansekap, special lighting, dan sebagainya, kontraktor – mulai dari jajaran supervisor hingga tukang dan kuli angkut, supplier berbagai material, dan masih banyak lagi. Di dalam proses menjadinya, akan bertemu berbagai macam kepentingan. Masing-masing memiliki gagasan ideal, yang tidak selalu sejalan satu sama lain. Masing-masing bertujuan agar gagasan ini terwujud. Apabila arsitektur yang terwujud adalah realisasi dari semua yang ideal itu, maka kondisi yang terjadi tentulah utopis. Namun, ketidakseimbangan kepentingan didalamnya akan membuat pihak lain atau bahkan arsitekturnya ‘sakit’. Gagasan siapa lalu yang lebih ideal? Yang lebih lantang berbicara?
Baru-baru ini, The Massachusetts Institute of Technology menuntut star architect, Frank Gehry, berkaitan dengan kegagalan desain di Stata Center. Bangunan yang selesai konstruksinya pada musim semi 2004 ini terus menerus mengalami bocor, masalah dengan drainase, dan masalah dengan tonjolan-tonjolan pada dinding luarnya. Dikatakan bahwa salju dan es yang terkumpul pada kotak-kotak jendela dan area lain di atap berjatuhan dan membahayakan pengguna. Selain itu, salju dan es yang jatuh juga menutup emergency exit dan mengakibatkan kerusakan.
Pihak kontraktor, Beacon Skanska Construction Co., mengatakan, Gehry tidak mengindahkan peringatan-peringatan dari mereka bahwa ada banyak kelemahan dalam desainnya. “This is not a construction issue, never has been,” kata Paul Hewins, executive vice president dan area general manager dari Skansa USA. Hingga kini, pihak Gehry Partners belum memberi tanggapan atas tuntutan tersebut.
Le Corbusier, arsitek visioner yang dipilih oleh Time sebagai 1 dari 100 tokoh paling berpengaruh di abad 20, tidak luput dari pergulatan serupa. Gagasannya mengenai kota ideal, pada akhirnya mengundang banyak sekali kritik dan kegagalan yang fatal. Dalam bukunya Urbanisme, Le Corbusier menyatakan, “Modern town planning comes to birth with a new architecture. By the immense step in evolution, so brutal and so overwhelming, we burn our bridges and break with the past.” Dia benar-benar mempercayai gagasannya. Tak ada lagi jalan-jalan dan sisi jalan yang meriah, tak ada lagi public square yang hiruk pikuk, tak ada lagi lingkungan tinggal yang berantakan. Manusia akan tinggal dalam bangunan-bangunan tinggi yang higienis, yang secara keseluruhan merupakan elemen dalam tata kota taman yang sangat teratur. Kota rasional ini akan terbagi dan terpisahkan dalam zona-zona untuk bekerja, tinggal, dan hiburan. Lebih jauh lagi, semua harus dikerjakan dalam skala besar ; bangunan-bangunan besar, ruang-ruang terbuka besar, dan jalan-jalan kota yang juga besar.
Kenyataannya, dimanapun gagasan itu diterapkan – di Chandhigarh oleh Le Corbusier atau di Brasilia oleh pengikut-pengikutnya – gagasan itu menuai kegagalan. Le Corbusier menyebut kota idealnya La Ville Radieuse atau Kota yang Bercahaya. Di Amerika Serikat, Kota yang Bercahaya ini mengambil bentuk skema-skema pembaruan kota raksasa dan proyek-proyek perumahan yang sangat kaku, yang benar-benar merusak jaringan kota. Saat ini, mega proyek semacam itu mulai dipreteli, superblok disisipi rumah-rumah deret yang langsung bersinggungan dengan sisi jalan, berbagai aktivitas disuperimposisikan, bukan dipisahkan, ke dalam kehidupan kota. Area residensial dihidupkan kembali, baik yang lama maupun yang baru. Kota-kota akhirnya belajar bahwa mempertahankan sejarah ternyata jauh lebih masuk akal dibanding memulai semuanya dari nol. Sebuah pelajaran mahal, yang diwariskan oleh Le Corbusier.
Beberapa star architect memang mampu memesona kliennya dengan cara membahasakan gagasannya seolah itu adalah seni abstrak yang brilian. Bahkan jika ternyata kliennya tidak mengerti apa yang dibicarakannya, mereka akan menelan gagasan ideal si arsitek, terpukau dan terbuai oleh visi besarnya, atau oleh kemampuannya berbicara. Kutipan di bawah ini berasal dari wawancara dengan Peter Eisenman. Cobalah mengunyahnya.
"In Santiago my idea was to superpose a Cartesian grid onto the existing, organic, medieval 'grid' and warp or deform them with a topological grid that projects upward. This produces lines of force that were never a part of projective geometry. They mutate in the third dimension. This has a powerful impact on the ground surface. It is a way of dealing with the ground not as a single datum, not as a foundation, not as something stable. It disrupts its iconic value, turning it into an index." (Eisenman)
Lebih jauh ia menambahkan, "I do not do function".
Bekerja dengan arsitek yang kuat membutuhkan sparing partners yang juga kuat, agar dalam proses menjadinya, sebuah gagasan ideal benar-benar dimasak dengan takaran yang pas. Arsitek bukan superman. Gagasan ideal yang tidak melalui proses benturan yang terus-menerus akan menjadi arsitektur yang utopis, yang harus dibayar mahal kemudian. Arsitektur yang berkelanjutan adalah arsitektur yang berhasil ‘dicintai’. Untuk itu, ia harus menyentuh banyak orang, bekerja untuk banyak pihak, tidak hanya untuk mimpi si arsitek. Kompromis? Ya.
Keinginan atau Kebutuhan?
Menurut kisah, suatu hari Socrates berdiri termangu di depan sebuah toko yang menjual bermacam barang. Saat seorang bertanya kenapa ia termangu, filsuf yang tak pernah menulis satu kalimat pun itu berkata, “Betapa banyak benda yang tak kuperlukan.”
Gagasan ideal, sebuah keinginan atau kebutuhan? Kebutuhan manusia tidak banyak, dan alam menyediakannya secara cukup. Kehidupan yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan adalah kehidupan yang ber-evolusi. Keinginan memicu revolusi dan segala kemajuan (dan kemunduran) manusia yang gegap gempita : mesin, perang, senjata, televisi, pesawat terbang, gaya hidup, stasiun luar angkasa, satelit, tenaga nuklir, teknologi komunikasi dan informasi, wired dan unwired. Revolusi. Kebutuhan lebih bersifat mendasar dan – dapat dikatakan – universal. Keinginan, walaupun memiliki daya dorong yang luar biasa, lebih bersifat personal dan subyektif.
Berapa banyak sesungguhnya yang dibutuhkan manusia? Berkecimpung dalam dunia praktek arsitektur sering mencengangkan dan membuat kita berpikir lebih banyak lagi soal kebutuhan dan keinginan. Betapa kedua hal itu sering bukan berupa dua lingkaran domain yang beririsan cukup banyak, tapi malah berjarak, tidak berhubungan, elastis dengan indefinitive rentang diantara keduanya.
Saya akan berbagi pengalaman dalam praktek, bergulat dengan keinginan dan kebutuhan dalam tiga perspektif : Estetika, Program dan Luas Ruang, dan Moral.
1. Estetika
Aesthetics: The branch of philosophy that deals with the nature of art and of artistic judgement (alamat wikipedia?). Bagaimana menilai estetika? Dan kalaupun bisa dinilai, adakah alat ukurnya? Bukankah estetika akan muncul dengan sendirinya jika segala sesuatu telah diselesaikan dengan benar? Pertanyaan yang lebih mendasar lagi, apakah estetika sebuah kebutuhan atau keinginan belaka?
Sebelum Starbucks mengemas kopi ke dalam satu strategi desain yang menjadikan kopi dan budaya minum kopi sebagai sebuah gaya hidup, pasti susah menjual secangkir kopi dengan harga lebih dari tiga puluh ribu rupiah. Pada saat estetika menambah nilai ekonomis suatu komoditas, siapa yang tak butuh estetika? Bahkan Malaysia, dengan obyek wisata yang sangat minim jika dibandingkan dengan Indonesia yang membentang dari Sabang sampai Merauke, berhasil menarik wisatawan 20 juta setahun pada tahun 2006 (bandingkan dengan Indonesia yang hanya kedatangan 5 juta turis di tahun yang sama). Hal ini disebabkan kepiawaian Malaysia dalam mengemas image negaranya menjadi sangat estetis.Berikut adalah cuplikan pengalaman pribadi yang ‘berharga’.
Klien : Ini terlalu minimalis. Apa tidak akan membosankan nantinya?
Saya : Desain saya bukan minimalis.
Klien : Lho, lalu apa namanya?
Saya : Saya tidak berani memberi nama.
Klien : Menurut saya desain anda sih minimalis.
Saya : Baiklah. Anda lebih tahu.
Klien : Kenapa teritisannya panjang sekali?
Saya : Supaya tidak tampias dan lebih teduh.
Klien : Kelihatannya jadi kurang modern. Bagaimana kalau dipendekkan?
Saya : Jendela akan kena tampiasan hujan. Air akan merembes ke dalam.
Klien : Kalau begitu buat jendela mati saja. Frameless. Lebih modern kan?
Mungkin saya memang tidak pandai berdiplomasi.
2. Program dan Luas Ruang
‘Seberapa cukup adalah cukup?’ adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Adi Purnomo dalam bukunya Relativitas, yang mempertanyakan terus menerus posisi arsitek di ruang angan dan kenyataan. Pertanyaan diatas adalah gugatan terhadap gejala membesarnya volume rumah tinggal di Jakarta. Keyakinan saya yang saya dapat waktu belajar dulu, bahwa urusan program ruang dan luasannya adalah hal yang pasti ternyata salah. Sama seperti estetika, ia juga berada dalam wilayah abu-abu, serba relatif.
Klien : Saya mau ada ruang karaoke.
Saya : Bapak pasti hobby menyanyi, ya?
Klien : Tidak.
Saya : ?
Klien : Tapi kalau saya punya ruang karaoke, saya akan senang menyanyi.
(Betapa sederhananya. Kalau saya punya PC, saya akan senang menulis. Kalau saya punya mobil, saya akan jadi juara rally.)
Klien : Saya mau ada minitheater di rumah saya.
Saya : Kapan terakhir nonton film, pak?
Klien : Lupa. Kapan ya?
(Jangan tanya saya, Pak. )
Klien : Saya mau tiap kamar tidur dilengkapi dengan satu kamar mandi.
Saya : Apa nggak kebanyakan, bu?
Klien : Biar nggak rebutan. Repot kan kalau pagi-pagi. Semuanya mau duluan.
Saya : Memang tidak bisa diatur waktunya?
Klien : ?
(Klien saya itu bingung. Berbagi, buat beberapa orang, ternyata adalah sebuah kemustahilan.)
Saya yang sangat percaya pada keefektifan sistem modulor Le Corbusier yang menggunakan proporsi tubuh manusia sebagai dasar untuk menyusun geometri dalam arsitektur, menjadi bertanya lagi. Mungkinkah fenomena yang terjadi ini sekedar kekacauan belaka, atau jangan-jangan ada aturan matematika baru di alam semesta ini?
3. Moral
Tapi arsitektur bukan sekedar masalah matematika dan teknik belaka. Keinginan dan kebutuhan juga berbenturan di lahan moralitas. Kalau masalah di dalam tapak selesai, apa lalu semua masalah selesai? Mungkin begitu bagi sebagian arsitek. Karena itu banyak rumah menempati lahannya sampai penuh, memagari dirinya dengan dinding pagar yang lebih tinggi dari rumahnya, memenjara dirinya supaya aman dari dunia luar. Tidak pernah berada di lingkungannya. Satu-satunya hubungan fisik dengan sekitar adalah lewat secelah pintu pagar, tempat keluar masuk. Arsitek, lagi-lagi, harus memekakan rasa untuk menakar, seberapa jauh gagasan idealnya harus diperjuangkan.
Saya : Kalau semua kebutuhan ruang ibu saya penuhi, seluruh tapak akan tertutup bangunan.
Klien : Tapi saya memang tidak perlu halaman. Saya butuh ruangan.
Saya : Tapi anda tidak akan punya resapan. Air yang tidak teresap tanah akan mengakibatkan banjir.
Klien : Tanah saya diurug dan ditinggikan saja. Biar nggak kebanjiran.
Saya : Tapi air akan melimpah ke tetangga dan ke jalan.
Klien : Lho, memangnya kenapa?
(Memikirkan diri sendiri, buat beberapa orang, ternyata telah jadi sebuah kebenaran.)
Klien : Kamarnya terlalu sempit.
Saya : Sebenernya ini cukup. Ruang memang sengaja saya buat tipis supaya bisa terjadi cross sirculation udara.
Klien : Buat apa? Saya kan mau pake ac di semua kamar.
Saya : Kalau bisa tidak pake ac kenapa harus pake ac?
Klien : Tapi nanti nyamuknya masuk.
Saya : Kan bisa pake kawat nyamuk.
Klien : Tapi kamarnya terlalu sempit. Dan saya mau selalu pake ac.
Saya : Listriknya akan boros.
Klien : Biarin. Saya ini yang bayar.
(Issue global warming yang sangat mencemaskan, buat beberapa orang, ternyata masih fiktif.)
Saya tidak akan membuat kesimpulan. Saya hanya akan meneladan seseorang yang sangat saya kagumi. Yesus sering membuat perumpamaan untuk menjelaskan hal-hal (sederhana) yang sering susah dimengerti oleh pengikutnya. Maka beginilah saya melihat arsitektur ideal. Ia adalah sebuah balon udara yang harus ditarik ke bawah untuk bisa dinaiki. Pada saat itu, ia harus rela kehilangan ketinggian, karena hanya dengan begitu, ia bisa dihuni, disetubuhi, dan berjalan melampaui ruang dan waktu. Arsitek sejati adalah arsitek yang mampu menjaga daya lambung kreativitas dan idealismenya seraya dengan peka merelakan orang lain untuk mengambil tempat dalam keranjangnya, sambil tetap menjaga takar beban yang bisa dimuat agar ia tetap bisa terbang.
Referensi
Eisenman, Peter. Why Hiring a Star Architect Isn’t Always a Stellar Idea. Dalam Arthur J. Lidsky. (Ed), The Chronicle of Higher Education. Campus Architecture.Tzu, Lao. (1991). Ruang dalam Arsitektur. Dalam Cornelis van de Ven (Ed), Dari Tiada Menjadi Ada, (hal. 5-6), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Saya Bersama Mercy Corps
Saya bergabung bersama Mercy Corps, sebagai Technical Consultant for Engineering, membantu Program Mercy Corps di Maluku yaitu Maluku Economic Recovery Program ( MERP ), dalam hal ini menangani bidang Infrastructure. Program-program infrastructure yang ada, tersebar di Pulau Seram ( Amahai, Tehoru, Werinama ), Pulau Haruku, Pulau Saparua dan di Pulau Ambon sendiri. Berbagai macam proyek, antara lain Dock for Speedboat, Small Bridges, Pathway, Drying Structure for Coconut, Drying Structure for Clove, Traditional Market dan masih ada lagi, semuanya mempunyai target untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pada umumnya.Salah satu
proyeknya adalah pembuatan Dermaga Speed dan Perahu di Tehoru, Kab. Maluku Tengah, dalam penentuan proyek, selalu melibatkan masyarakat. Kondisi yang ada sekarang masyarakat setempat, naik dan turun dari speedboat dan perahu ( ketinting ) terpaksa berbasah-basah ( terlihat dalam gambar di atas ). Dengan demikian sangat terasa sekali kebutuhan akan dermaga tersebut. Masyarakat yang nanti akan memanfaatkannya dan masyarakat pula yang menentukan kebutuhan akan proyek tersebut. Dengan demikian diharapkan akan meningkatkan perekonomian masyarakat di lokasi proyek.Sangatlah diperlukan untuk selalu melibatkan masyarakat dalam penyelesaian proyek, salah satunya adalah menentukan lokasi dimana dermaga tersebut akan dibangun. Terlihat dalam gambar,
saya dan teman-teman dari Mercy Corps, berbincang-bincang dengan Bapa Raja ( Kepala Desa ) setempat.
ampak positif bagi masyarakat setempat, contohnya salah satu penduduk setempat ( dalam gambar ).
Senin, 21 Juli 2008
Sabtu, 19 Juli 2008
Kamis, 17 Juli 2008
Kekayaan Arsitektur Indonesia

Indonesia, negara kita kaya warna, ini adalah gambar rumah dan lingkungan rumah di Sumba, yang menggambarkan betapa kita punya budaya yang beraneka ragam. Marilah kita gali apa yang ada di dalam diri kita, untuk menjawab masa depan dengan lebih berkarakter, kita angkat budaya lokal untuk menjawab tantangan global......


