Rabu, 11 November 2009

Pintu Gebyok

Pintu gebyok penuh ukiran, tidak lekang oleh zaman, bisa dipadankan dengan bangunan rumah dengan model apapun asal bisa mengatur iramanya saja.
Akan mempercantik rumah tinggal, asal pengaturannya bisa pas, harus mengalir tanpa terasa ada ganjalan, sesuatu yang membutuhkan kepekaan perasaan tentang harmoni, kelihatannya simple, tapi mungkin hal ini bisa lebih mudah bila dikonsultasikan dengan arsitek, ......

RAJAWALI KEMBALI


Sajak Adhie M Massardi

*) melanjutkan pesan Rendra

aku rajawali
yang kamu kira sudah mati

padahal rajawali tak pernah mati
hanya terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia menyaksikan tingkah polahmu
yang menjijikan

kamu melata seperti buaya
lidahmu bercabang seperti kadal
kamu jilati bokong para cukong

tapi kepada rakyat lagakmu seperti kingkong
kamu mudah ngamuk
kamu hancurkan harapan dan masa depan
anak-anak mereka

tapi dari balik awan
yang matahari mengangkatnya dari permukaan bumi
aku lihat kamu hanyalah seekor tikus got
yang membiarkan kesejahteraan rakyatmu terus merosot

aku rajawali
kamu kira sudah mati?

rajawali tak pernah mati
hanya terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia menyaksikan tingkah polahmu
yang makin menjijikan

wahai, kamu, pencemar bumi yang durhaka
rajawali sudah mengembangkan sayapnya
menebar ancaman yang nyata

sekali tukik kupatuk kedua matamu
dan kamu akan mengaduh dengan pedih
tapi suaramu hanya menggema dalam kegelapan
tak sampai ke mana-mana

rajawali lalu hinggap di atap istana
menggedor jantung kekuasaanmu
dan kamu terguling dalam kubangan penyesalan
seperti para pemimpin sebelum kamu


akulah rajawali
penjaga nurani yang tak pernah mati
dan akan selalu kembali

2009

NEGERI PARA BEDEBAH

SAJAK ADHIE M MASSARDI

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.

Minggu, 25 Oktober 2009

Skenario Runtuhnya WTC

Suatu sinyal yang dipancarkan dari sasaran, menuntun pesawat itu. Tak perlu banyak orang di pesawat dalam kendali pilot otomatis. Bahkan, pembajak sama sekali tidak dibutuhkan. Pesawat itu berada di bawah kendali remote control , mengendalikan pesawat tanpa pilot.



oleh Hasan Syukur (Wartawan)
SETIAP 11 September, rakyat Amerika mengenang tragedi runtuhnya menara kembar World Trade Centre (WTC) di New York, AS, yang memakan banyak korban. Gedung kembar itu hancur luluh bagaikan gedung tua yang diledakkan oleh bahan peledak dari dalam setelah ditabrak dua pesawat terbang komersial. Hari itu, jaringan televisi AS meliput secara live dari lokasi peristiwa. Tayangan itu terbidik dari beberapa sudut dan terlihat langsung oleh jutaan pemirsa televisi. Pers AS lalu seperti menyanyikan lagu koor, mengutip keterangan resmi: ‘Menara itu runtuh diserang oleh teroris Muslim yang digerakkan oleh Usamah Bin Laden dari Afghanistan’. Tapi, tak semua pers mengikuti koor itu.

Theiry Meyssan, seorang jurnalis asal Prancis mencoba melihat peristiwa itu secara objektif. ”Saya akan menjungkirbalikkan seluruh versi resmi serangan 11 September 2001,” katanya. Hasil investigative reporting -nya itu kemudian ia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul 9/11 The Big Lie America , diterjemahkan penerbit Jalan Lurus dengan judul, Bohong Besar Amerika , Bandung, 2003.

Inilah cerita versi Thierry Meyssan: Kedua pesawat itu diidentifikasikan oleh FBI sebagai Boeing 767. Pesawat itu menghantam tepat pada sasarannya. Peristiwa ini sangat musykil. Dipandang dari ketinggian yang jauh, sebuah kota akan tampak seperti selembar peta dan semua acuan visual yang lazim menjadi hilang. Untuk menabrak menara, pesawat perlu dipraposisikan pada ketinggian sangat rendah. ‘Karya’ itu merupakan prestasi luar biasa bahkan pilot yang sangat berpengalaman pun sulit melakukannya. Konon yang melakukannya adalah pilot yang baru lulus latihan.

Namun, ada satu cara untuk mendapat hasil demikian, yakni memakai rambu tuntun dari radio. Suatu sinyal yang dipancarkan dari sasaran, menuntun pesawat itu. Tak perlu banyak orang di pesawat dalam kendali pilot otomatis. Bahkan, pembajak sama sekali tidak dibutuhkan. Pesawat itu berada di bawah kendali remote control , mengendalikan pesawat tanpa pilot.

Setelah ditabrak, Menara Kembar runtuh sendiri. Sebuah komisi penyidik menyimpulkan bahwa terbakarnya bahan bakar pesawat menimbulkan panas yang melelehkan struktur logam utama kedua bangunan. Teori ini disangkal keras oleh Assosiasi Pemadam Kebakaran New York dan Journal Profesional, Fire Engineering bahwa struktur bangunan tersebut tahan api. Para petugas pemadam kebakaran malah mendengar ledakan di lantai dasar bangunan. Pakar terkenal dari Institut Pertambangan dan teknologi, Van Romero pun mengamininya. ”Keruntuhan itu diakibatkan oleh bahan peledak,” katanya.

Pada hari yang sama, Departemen Pertahanan mengeluarkan pengumuman singkat ”Pentagon diserang teroris pada pukul 09.38,” kata Menteri Pertahanan Donald H. Rumsfeld. Pers AS pun heboh. Namun, ketika mau meliput peristiwa itu, para wartawan diusir dari tempat kejadian dengan alasan agar tidak menghalangi operasi penyelamatan. Toh, wartawan AP, Tom Horan, berhasil mendapatkan foto-foto ekslusive dari sebuah gedung dekat lokasi kejadian.

Kepala Staf Gabungan, Jenderal Richard Myers, mengindikasikan bahwa pesawat terbang bunuh diri itu adalah Boeing 757-200. Pukul 08.55 waktu setempat, Boeing itu turun ke ketinggian 29.000 kaki. Dua pesawat tempur F-16 segera melesat untuk mencegat Boeing itu, tapi katanya kehilangan jejak.

Menurut Meyssan ini tak masuk akal. ”Bagaimana percaya sebuah pesawat jet berbadan tambun bisa mengecoh dua pesawat tempur yang memburunya?” Seandainya si Boeing berhasil mengatasi rintangan pertama pun, dengan mudah akan ditembak jatuh saat mendekati Pentagon. Pasalnya, di pangkalan udara Saint Andrew di sekitar Pentagon, berpangkalan Wing Tempur 113 Angkatan Udara dan Wing Tempur serang 321 Angkatan Laut. Masing-masing dilengkapi pesawat tempur F-16 dan F/A-18. Di atap gedung itu pun dipasang penangkis serangan udara dan rudal-rudal supercanggih. Mereka tentu tak akan pernah membiarkan sang Boeing menghampiri Pentagon.

Pesawat raksasa itu tiba-tiba mendekati tanah, seperti akan mendarat, langsung menabrak Gedung Pentagon. Anehnya tanpa merusak tiang lampu dan bangunan-bangunan di sekitarnya. Moncong pesawat masuk ke pintu gerbang yang tengah direnovasi. Keterangan resmi ini, menurut Meyssan, meragukan. Tabrakan keras itu pastilah menimbulkan kebakaran besar, lalu pesawat menjadi onggokan gosong.

”Jika merujuk pada foto dari AP, Anda akan melihat tidak dijumpai bangkai pesawat di sana. Bahkan, sebuah gir roda pesawat pun tak tampak. Padahal pemotretan itu dilakukan di menit-menit pertama ketika mobil pemadam kebakaran tiba dan petugas belum menyebar,” tulis Meyssan dalam bukunya itu. Diduga suara berdesing dan runtuhnya atap salah satu pintu gerbang Pentagon itu disebabkan oleh rudal tipe AGM. Jenis rudal ini menyerupai sebuah pesawat terbang sipil kecil, memang. Tapi, bukan pesawat terbang. Demikian Meyssan.

Lepas dari kontroversi itu, Presiden AS, George W Bush, segera mengumumkan bahwa serangan itu dilakukan oleh teroris Muslim, pimpinan Usamah bin Ladin. Maka, tanpa memerlukan penyelidikan seksama, dengan alasan memburu pimpinan Alqaidah itu, Bush memerintahkan penyerbuan ke negara Muslim Afghanistan. Gilirannya, Irak diduduki dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal (yang kemudian ternyata tidak terbukti).

Kenapa Bush menuding Muslim? Rupanya Bush mendapat bisikan dari Samuel Philip Huntington. Pandangan negatif penasihat gedung putih terhadap Islam ini tertuang dalam sebuah artikel yang dimuat di media Foreign Affairs yang terbit pada musim panas 1993 dengan judul ”The clash of Civilization”. Artikel yang memancing polemik ini kemudian diterbitkan dalam bentuk sebuah buku pada 1996. Menurut Huntington, setelah Uni Sovyet (ideologi komunis) runtuh, musuh berikutnya adalah Islam. Sudut pandang negatif terhadap Islam inilah yang rupanya diyakini Presiden Bush. Bush lalu mendeklarasikan perang atas nama membasmi teror.

Sejak dulu Indonesia negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini adalah negeri yang aman. Bangsa yang yakin bahwa agama adalah rahmat bagi sekalian alam. Tapi, sejak deklarasi Bush itu, tiba-tiba bom-bom canggih berledakan merobek ketenangan negeri ‘jamrud Khatulistiwa’ itu dan memakan banyak korban orang tak berdosa. Lalu pesantren dituding biang teror. Orang-orang berjenggot, berpakaian gamis dengan celana menggantung dicurigai. Ujung-ujungnya, kegiatan dakwah harus diawasi. Mungkinkah malapetaka ini bagian dari skenario global untuk menyudutkan Islam?

*Dikutip lengkap dari Republika, 11 September 2009

Kamis, 22 Oktober 2009

History Traditional Kudus House

Kudus is a city in the Central Java, Indonesia, located among Jepara, Demak, Pati, and Purwodadi districts and in the route of Semarang the capital city of Central Java to Surabaya (please see location map). Based on story, Kudus name was from Al-Quds, which mean holy.

The history of Kudus cannot be separate from the name of Sunan Kudus as the founder and one of the Wali sanga (nine Wali) spreader of Islam in Java at that moment. As his inheritance, Kudus has a famous artefact called Menara of Kudus which form like a temple, placed in one complex with mosque of Menara Kudus that build by Sunan Kudus around 1685 M.

Except famous as a Wali city, since in Kudus area there is wellknown also Sunan Muria, Kudus also known for a long time as a kretek city (city of clove cigarette) as there are many entrepreneurs in the cigarette field. Beside that, Kudus can also called as city of industry because of the long development of industry in the area such as industries in cigarettes, papers, printings, handycrafts, embroideries, foods, etc.

Kali Gelis (Gelis river) which lying in the midlle of the city separates Kudus into two areas, one is Kudus Kulon (west Kudus), the other is Kudus Wetan (east Kudus). Long time ago, according to history, citizen of Kudus Kulon area were entrepreneurs, traders, farmers and moslem theologians, while occupant of the Kudus Wetan area were government officers, intellectuals, teachers, nobles and noble relatives.

Within the growth and development of Kudus, physically Kudus Kulon area, where the majority of the citizens were entrepreneurs and traders, were a steph forward in wealthy compare with the other area Kudus Wetan. With their financial increasing, they build the traditional wooden houses of Kudus full with carved that make it different with the previous traditional houses. That is why, the amazing traditional house, which lately called as the traditional house of Kudus used to only placed in the Kudus Kulon area. At the beginning, the traditional house of Kudus only belong to the Islamic Chinese traders, but furthermore were copied and developed by the native wealthy traders.

The traditional house of Kudus that mostly build before year 1810 M, ever reach the glorious time and become a symbol of prosperity for the owners. The Kudus Kulon area environment was formed with the particular existency of the traditional house of Kudus.

The developing history of Kudus has many influences from foreign cultures like Hindu, Chinese, Persia (Islam) and Europe, which also influence the architectural field in made the traditional house in Kudus. From the research, it can be concluded that there are several motifs colouring the carving style of the traditional house. One is Chinese motif, which form as the dragon carved, Persia or Islam motif that form as jasmine flowers or the particular motif of Kudus that form as lotus flower and colonial motif that form as ropes, crown, and animals. All motifs have correlation with the incoming cultures to Kudus.

The carving art of Kudus dominate by lotus flower as the meaning of Hindu religion. Sunan Kudus introduced a carving dominated by jasmine flowers that described united one to another. The meaning of jasmine was to describe that Islam religion at that time was a small community but it like jasmine, even small, could give fragrance to the sorrounding area. Jasmine made united in one to another to describe that everybody in neighborhood were live in peace even there were differences in the religion.

Within development in making the traditional house of Kudus, influence of the elements of cultures were very viscous gave the meaning of form and function of every part, hence could be separate as follows:

1. Traditional house as the tools to spread religion (dakwah) *) In the daily life, Kudus citizen are majority obedient muslem. Life of religious service is the social relations that have formed in the many aspects, such as in the house to live which full with the describing of the rukun Islam (Islamic obligation). In the room inside, there is a place or room called gedongan which formed as mihrab, a place where imam (leader of praying) lead the pray that connected with the symbolic meaning as a holy place and sacral. Gedongan also has significance meaning used as the place of heirloom treasury and the wealth of the owners. Gedongan used also as the main honorables bedroom and at the particular time used as special bedroom for the wedding couple of the childrens of the owners. Also in the room inside there are four main pillars, which called saka guru that desribe four essence of ideal life. At the top of the fourth pillars, putted tumpang sari where the roof was lying on. The sum of tumpang sari are always odd and always have a meaning, sum of five describe the amount of praying five times a day. The sum of three describe life in soul world, transitory (this world) and the world hereafter. Front room that called Jaga Satru is provided for parish and separates into two part, left side for women jamaah (followers of imam) and right side for men jamaah (followers). Still in the Jaga Satru room at the incoming front door, there is one wood pillar in the midlle of the room which called balance pillar or soko geder, which has meaning except as the symbol of ownership of the house, it also has a symbol for reminding the resident about the One God, the only One who have to be homaged. House as the tools to spread religion is represent through Islamic value that formed in the carved style at the partition between front room and inside room called gebyok. The strengthen element of gebyok are two stalk pillars where at its top made a carved that formed as palm of the hand of muslem when doing praying at the position of takbiratulihram (when start to pray) that always at the same time say the words Allahu Akbar which mean Allah The Mighty. Carving in the gebyok, even it is accumulation from many culture influences, but the visualitation adopted from Arabic calligraphy with Al Quran and Hadist theme. There are many other dakwah messages that formed in the building decoration and it always about aspects of way of life and life attitude of human in do their obligation in the earth for their salvage in heaven.

2. Traditional house as a masterpiece art*) Traditional house of Kudus if notice deeply is more and more fabulous since its uniqueness and attractiveness in exterior and interior which full with ornamen that made by highest skill woodcarving artist. Foundation of the existancy of the traditional house of Kudus was full with taste and creation that fashioned in the beautiful forms without broken any religion values. Through the activity of art, there is possibility of adding the atmosphere of the deepest metaphysic reality. Traditional house of Kudus, if seen from Bernard Rudofsky theory, is include in the communal architect that priorities in the art element which done continuosly and spontaneously balanced by whole community with the same tradition from time to time following the ritual habit inside the communal. Art is not just copy and physical implementation of the external form, it also as the spiritual elements that achieve esthetic form. The creation becomes what it called architectural without architect. The construction of the wooden house made completely knock down that make it easir to release and assemble hence there is possibility also to make part by part of the ornamen fully detail and accurate. The decoration was inspired by the success of temple relief and the development process was instructed by Chinese woodcarver from Sun Ging area. The owners were the wealthy entrepreneurs and traders. The carved decoration were build on the whole component intentionally without gave any empty space left and the results was very optimum, full of meaning, symbolic and the style were correlation among Java, Gujarat, Persia, China and colonial (Europe) style. Wali Songo influence in the formed of decoration was very dominant even in Islam religion there is a forbidden in the formed of living thing, but they gave the chance of a huge tolerate formed as acculturation and assimilation on the evolutif way thus create a wonderful figurative consequence of imagination from the living thing forms. Art appreciation from the Wali Songo that full with tolerate also accomplished by khalifah in the Arab since Abbasiyah era. Palace of Harun Al Rasyid in Baghdad, palace of Al Mutasin in Samara, Cordoba mosque in Spain, also decorated by fresco formed lion, eagle, horses, and the other creatures. Drawing arts applicated in carpets, ceramics, wall and doors achieved the highest level to become the world admire. Art ornamentation looks unite with the main building, since the creators were very concern with details, function, structure, ritual, symbol and esthetic that decoratively increase the attractiveness for whoever want to see it. The particular local habitual in the way of life through the architectural behaviour is the description of personification of the Kudus traditional house that make it different in form and style with the other joglo building in Java commonly, except in the form of the roof and soko guru as the support of the tumpang sari.

3. Traditional house as the Class symbol *) The beautiful traditional houses of Kudus have average age for more than 100 (hundred) through 200 (two hundred). Due to the age of the building, if someone wants to analyze it, they have to use the examination within that era. According to Prof. Berger, the structure of the Java community at the 19th and 20th century can be divided into several class such as; nobles, government officers, traders and farmers. Colonial politics at that time placed politic emancipation that have aim to liberate individual from old social band which consider shackles the freedom and law enforcement that hold mostly in the feodalism band. Development of individual in the community was appointed to the forming of personality, spirit effort in order to developing the prosperity soon. In the other words, Kudus citizen that categories as pesisiran (near the beaches) citizen, their wealthy level mostly higher compare with the nobles and the officers at that moment. But in the daily life they did not get any self-respect and honor by the community. They way of living as a trader was qualified as second class and dishonor, hence as the compensation citizen of Kudus Kulon, that the majority were traders, formed the appearance of their house very glorious with the expectation that their too have the rights to get honor same with the nobles. The level of their house made in high five stairs to suit with the social strata like what it done by noble community. Guess from the farmers were accepted in the front room, for the officers community accept in the midlle room while for Bupati (distric chief) and Netherlands people were accepted in gedongan room. Surrounding the house was made high wall same as the form of palace. Traditional houses that at the beginning owned by traders of Chinese moslem were copied and developed with the Javanese and Islamic values. All over the house were full of carved with ornament from many styles like in the palace of kings in Java, done by high skilled woodcarvers with very fascinating result. Accordingly, it worth to gets the confession of honor like government officers and nobles. For them, house were a symbol of status or stage that worth to get honor and equality.

(Source :* J Pamudji Suptandar, Great Lecture of Rupa art and Design Faculty of Trisakti University/Adopted in English by Deva's father)

The fascinating wooden carved at the traditional house of Kudus must be come from the very skilled woodcarvers. Then, from where the woodcarvers came from?

The carving style of the wooden traditional house of Kudus was quite distinct from the other famous carving centre in Java, Jepara. Historically, Kudus was a carving centre long before it developed as a skill in Jepara. Carving was introduced to Kudus when an emigrant from the famous carving city of Yunan - China, The Ling Sing, arrived in the 15th century. He came to Kudus not only to spread Islamic teachings but also to devote his skills to the art of woodcarving, and his style, Sung Ging, was famous for its smooth and wonderful woodcarving masterpieces.

The Ling Sing was wellknown as mubaligh (spreader of Islam) called Kiai telingsing. The name of Kiai Telingsing until now use as a name of a street in Kudus city. There is a kampong or village surrounding the street called Sunggingan that predicted came from the Sun Ging name. The area, at the past, was belief as the resident of the woodcarvers and carpenters from the devotion of Kiai Telingsing skills.

From the 16th to the 18th century, woodcarvers in Kudus received many orders to construct wooden houses. The main material - highest quality teak - was supplied from Blora's, Tuban's and Bojonegoro's forest. From the 19th century, however, high quality teak became scarcer and scarcer and this, in turn, discouraged the woodcarvers of Kudus to develop their skills.

The carving skills also belong to Jepara's people and has been very famous until now. There is an opinion, which said that wooden carved art in Kudus also done by woodcarvers from Jepara, eventhough in the reality it different in the carving models, especially in the mission and filosophy.

According the history, Mantingan mosque in Jepara has wall that made from carved white stone with the flower motifs that was masterwork of a Chinese called Tji Wie Gwan who brought by Raden toyib to Jepara after come back from his Islamic study in Campa for five years. Raden Toyib then married with Ratu (queen) Kalinyamat, the very famous Jepara's queen at that time.

For his achievement in build Mantingan mosque at the year of 1559, Queen Kalinyamat and her husband gave a new name for Tji Wie Gwan to become Sungging Badar Duwung, Sungging means carving expert, Badar same with stone and Duwung means tatah (tool for carv).

This Sungging Badar Duwung who then recognized as the root source of the Jepara's carving art which consecutively knowing in all over Indonesia and the world. According to history, he was too takes a part in the erection of mosque in Loram (a name of area in Kudus) and mosque of Menara Kudus.

Sungging Badar Duwung then devoted his skill to the surrounding community in Jepara as well as in Kudus and presented high skilled carvers that from time to time growth in numbers. This skill direct and indirect was useful in the process of developing the traditional house of Kudus.

The certainty of mentioned things were still need to be investigated furthermore. But for sure, the traditional house of Kudus has build and become one of the Kudus markers with its fabulous woodcarving.

Jumat, 04 September 2009

KututKutuBuku.com





Masukkan Code ini K1-E29ABA-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Kamis, 27 Agustus 2009

Architecture for Humanity




This project, sponsored by Architecture for Humanity for NextAid, a South African non-profit organization that runs several programs to engage community members of all ages in changing the problems that affect their community.

Building the Elegance

Defi Reisna

dari : arsitektur.net

Mengapa sesuatu dapat dikatakan elegan dan apa yang membentuknya sehingga kita bisa mengatakannya elegan? Terkadang kita menilai sesuatu tetapi sebenarnya kita sendiri tidak mengerti mengapa demikian. Eksplorasi Building The Elegance berikut ini mengupas proses membangun sesuatu menjadi elegan, apa yang membuat sesuatu menjadi elegan, dan bagaimana menciptakan suatu keeleganan.

Sebelum menciptakan keeleganan kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan elegan dan unsur-unsur atau karakter apa saja yang membentuk keeleganan. Karena setiap orang memiliki pengertian dan pemahamannya sendiri terhadap elegan. Apa yang kita anggap elegan belum tentu elegan bagi orang lain. Dan pengertian elegan juga terus berubah dari waktu ke waktu, mungkin yang dahulu dianggap elegan, saat ini dianggap biasa saja. Perubahan persepsi dan pengertian elegan bagi seseorang juga terkait dengan experience seseorang. Pengalaman terkadang menentukan mind set seseorang sehingga ia menjadikan pengalaman tersebut sebagai patokannya.

Kita seringkali menyebut kata elegan atau menilai sesuatu elegan secara spontan dan keluar begitu saja. Tetapi ketika kita ditanya apa itu elegan, mungkin sulit bagi kita untuk menjawabnya secara langsung. Karena memang tidak semudah itu kita mendefinisikan apa itu elegan, indah, cantik atau jelek, dll. Masing-masing dari penilaian tersebut telah ada standar pengkategoriannya. Seperti halnya elegan, terdapat beberapa standar yang mengkategorikannya menjadi elegan dan yang membedakannya dengan cantik, indah atau jelek. Ketika kita diminta membuat sesuatu yang elegan dan yang jelek tentu kita akan membuatnya berbeda dan secara tidak sadar kita menentukan standar dalam mengkategorikan masing-masing dari keduanya. Standar itu bisa jadi adalah berdasarkan pengalaman kita.

Maka dari itu di sini kita seolah-olah diminta untuk membalikkan apa yang biasa kita alami. Kita lebih sering melihat sesuatu elegan tetapi tidak tahu proses apa yang terjadi sehingga sesuatu itu menjadi elegan. Sekarang justru sebaliknya kita tahu terlebih dahulu proses sesuatu itu menjadi elegan kemudian orang lain (pada kondisi sebaliknya adalah diri kita) menilai apakah sesuatu itu benar menjadi sesuatu yang elegan?

Membahas mengenai elegan, yang terlintas di pikiran saya adalah sesuatu yang berbeda dari yang biasa/sering kita lihat, sesuatu yang unik dan membuat orang senang dan tertarik untuk melihatnya. Sesuatu yang elegan itu ada karena terdapat satu kesatuan unsur yang membentuknya. Seperti yang dikatakan berikut ini: “Just like natural system elegant composition are so highly integrated that they cannot easily be decomposed into independent subsystem” (Architectural Design, 2007). Dari pernyataan tersebut, saya mencoba untuk memahami dan mengaitkannya dengan sesuatu yang mungkin secara spontan saya katakan elegan. Susunan elegan itu seperti sebuah system yang alami, yang saling terintegrasi dimana tidak mudahnya bagi kita untuk menguraikannya menjadi suatu bagian-bagian kecil. Karena justru dengan kehadiran kesatuan susunan itulah sesuatu menjadi elegan, bila kita bongkar susunan tersebut maka yang terjadi sesuatu itu tidak menjadi elegan lagi.

Terkait dengan kesatuan susunan tersebut saya juga mengacu pada the principle of elegance postulate berikut: “Do not to add or substract without elaborate inflections, mediations or interaticulations” (Architectural Design, 2007). Dari pernyataan di atas, saya menyimpulkan bahwa jika kita ingin membongkar kesatuan susunan yang telah ada, maka kita harus ‘mempertanggungjawabkannya.’ Karena berdasarkan apa yang telah disebutkan jangan menambah atau mengurangi tanpa menguraikan perubahan, menengahi atau menyambungkannya.

Berdasarkan dua pernyataan di atas, saya mencoba untuk menjadikannya sebagai suatu proses untuk membentuk keeleganan. Namun sebelumnya saya mencari tahu apa saja standar pengkategorian dari elegan. Berdasarkan beberapa referensi, elegan terkait dengan bodiliy movement, composition dan attractive. Kita mengatakan sesuatu itu elegan karena kita melihat ada motion baik itu secara aktif ataupun pasif. Aktif di sini maksudnya adalah seperti kita melihat misalnya seorang penari balet yang dengan lemah gemulainya menggerakkan badan mereka, pasif seperti melihat sesuatu yang diam namun bentuk dan susunannya seolah menggambarkan suatu motion misal sebuah tangga melingkar yang membentuk alur tertentu sehingga orang yang melewati tangga tersebut juga seperti ikut bergerak mengikuti alur melingkar dari tangga tersebut. Composition terkait dengan bagaimana ia menciptakan atau membentuk terjadinya motion. Suatu komposisi itu menjadi satu kesatuan susunan yang saling terkait satu dengan yang lain. Kemudian motion yang terbentuk dari komposisi tersebut akan menjadi sesuatu yang menarik perhatian orang.

Selain itu saya juga mencoba untuk mencari pengertian dari kata elegan itu sendiri dari beberapa referensi internet yang mengatakan bahwa “elegance is refinement, grace, and beauty in movement, appearance, or manners” (www.answers.com). Elegan terkait dengan kemurnian, lalu apa kemurnian itu? Menurut yang saya coba untuk artikan, murni adalah sesuatu yang belum terkontaminasi, apa adanya, jernih (misalnya air yang murni) dan tidak dibuat-buat. Kemurnian tersebut lalu saya kaitkan dengan sesuatu yang simple namun di dalamnya memperlihatkan sesuatu yang belum tercemar. Jadi ia tidak hanya sekadar simple tetapi ada yang ‘memancar’ darinya.

Sesuatu yang menggambarkan kemurnian di sini saya mengambilnya yakni kaca yang berbentuk gelas. Mengapa gelas? Apa yang dapat kita lihat dari sebuah gelas kaca yang bening? transparan, mungkin itu pertama kali yang terlintas di pikiran kita, lalu apa? mudah pecah. Kemudian jika kita kaitkan dengan bentuknya, gelas secara tipikalnya adalah berbentuk silinder berongga. Suatu bentuk yang simple, fungsi utamanya adalah untuk menampung air, apakah bisa digunakan diluar fungsi tersebut? mungkin saja dengan bentuk yang demikian. Jadi sebenarnya fungsinya jika dikaitkan dengan bentuknya akan menjadi kompleks. Ke-simple-an tersebut terjadi karena kita melihatnya dalam lingkup keseharian, yang menjadi kebiasaan kita. Sama seperti halnya ketika kita melihat ketransparanan dari sebuah gelas kaca bening, Kita hanya melihat apa yang kita lihat sehari-hari. Pernahkah mencoba melihat apa yang ada dibaliknya? kemurnian tidak hanya simple tetapi di dalamnya ada sesuatu yang memancar.

Elegan terkait dengan kemurnian, kemurnian terkait dengan simple, simple tidak hanya sebatas yang kita lihat, kita perlu menelusurinya jauh lebih ke dalamnya, ada sesuatu yang belum ‘tercemar’, yang mungkin orang lain tak pernah akan menyadari kehadirannya sampai ia benar-benar menyadari bahwa tidak hanya sebatas itu ia harus melihat. Lalu bagaimana kita mengetahui ada apa di dalamnya? Kita harus melihatnya secara tidak biasa, keluar dari kebiasaan dan pengalaman yang telah kita miliki.

Maka dari itu saya mencoba untuk menguraikan gelas kaca bening tersebut menjadi bagian yang terpisah-pisah. Apa yang terjadi pada ketransparanannya, apakah menjadi berbeda? Atau sama saja seperti yang saya lihat sebelumnya? Atau ternyata ada sesuatu yang lain? Untuk melihat sesuatu yang belum ‘tercemar’ itu, kita memang harus melihatnya secara lebih jeli, karena jika kita hanya melihat pecahannya begitu saja memang tidak akan ada yang berbeda, kita hanya akan mendapatkan serpihan-serpihan saja. Lihat apa yang terjadi pada bagian pecahannya tersebut. Bagian pecahan yang diamati, ternyata ketransparanannya tidak hanya sebatas pada bagian yang selama ini kita lihat. Kita dapat melihat ketransparanannya sampai pada bagian pecahannya, apa yang ada di bawah bagian pecahan tersebut, itulah bagian yang belum ‘tercemar’, sesuatu yang disebut dengan kemurnian.

Tidak hanya sampai pada menemukan apa yang ada dibalik ketransparanannya, saya mencoba mengaitkannya dengan tiga unsur yang terkait dengan elegan yakni bodily movement, composition dan attractive . Mengacu pada kutipan saya ambil, yang menyatakan bahwa elegan itu adalah seperti sebuah natural system yang tidak dengan mudahnya kita uraikan. Dan dari bagian-bagian pecahan gelas kaca bening tersebut saya mencoba untuk menjadikannya sebagai sebuah satu kesatuan yang membentuk sebuah keeleganan, dengan juga mengacu pada ketiga unsur elegan yang telah saya kemukakan. Menjadikannya sesuatu yang terlihat sederhana namun ada proses yang kompleks di dalamnya.

Bagaimana proses yang kompleks tersebut? Dimulai dari bagaimana menemukan ketransparanan yang ada di balik ketransparanannya. Apa yang ingin ditunjukkan oleh ketransparanannya tersebut, yakni memperlihatkan bagian dalamnya yang terbentuk dari partikel-partikel yang saling membentuk satu kesatuan yang memadat, dimana ketransparanannya disini sudah tidak setransparan yang ada di lapisan luarnya dan semakin ke dalam kumpulan partikelnya tersebut semakin sangat memadat sehingga tingkat ketransparanannya semakin tak terlihat lagi. Kemudian bagaimana menyusun bagian-bagian serpihan dari gelas kaca bening tersebut sehingga membentuk sebuah susunan yang mengesankan sebuah movement. Sebuah movement terkait dengan adanya alur, kita bergerak atau sesuatu bergerak pasti akan ada alurnya. Dari kata alur ini saya mencoba untuk memahami bagaimana jika saya harus menciptakan alur? Ada apa pada alur tersebut? Melihatnya secara dua dimensi atau tiga dimensi? Jika kita mencoba melihatnya secara 2 dimensi garis besar yang kita lihat adalah perbedaan arah, namun jika kita lihat secara 3 dimensi kita akan melihat adanya perbedaan level. Maka di sini saya mengambil makna alur tersebut adalah adanya perbedaan level. Dari bagian-bagian serpihan gelas kaca bening tersebut, kemudian saya mencoba untuk menciptakan sebuah alur dengan perbedaan level.

Gelas kaca bening yang telah terbongkar satu kesatuan bagiannya menjadi suatu serpihan yang ternyata masing-masing dari pecahannya tersebut memiliki bentuk dan ketinggiannya masing-masing. Kemudian saya menyusun bagian serpihannya tersebut sehingga tercipta perbedaan level yang mengesankan alur.

Penyusunan ini terkait dengan composition sebagai salah satu unsur yang membentuk keeleganan. Perbedaan level saya bentuk mulai dari pecahan yang memiliki kontur tertinggi sampai yang terendah, di sini saya ingin menghadirkan suatu kesan movement menurun secara melingkar. Dan susunan ini akan membentuk sebuah satu kesatuan yang harmoni dan jika dihilangkan bagiannya, kesan movement yang telah terbentuk akan menjadi hilang.

Seperti pada kutipan sebelumnya, ketika saya menyusun serpihan gelas kaca bening ini, saya mencoba untuk menguranginya satu bagian dari serpihan, namun dengan pengurangan tersebut saya menguraikan dan menyambungkan kembali menjadi susunan yang baru tetapi bagiannya telah kehilangan satu bagian. Dari pengurangan tersebut saya mencoba untuk menjadikannya agar susunan yang baru ini tak terlihat bahwa telah ada pengurangan, dimana mereka melihatnya sebagai kesatuan yang memang berasal dari sebuah serpihan pecahan suatu kesatuan benda. Sehingga susunan yang baru ini menjadi salah satunya adalah penjelasan uraian saya terhadap perlakuan dari bentuk dan bagian sebelumnya.

Dan dari keseluruhan proses tersebut saya ingin memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengetahui bahwa susunan yang mereka lihat adalah berawal dari bagian-bagian kecil yang saling tersusun dan memperlihatkan ada apa dibalik dari bagian-bagian kecil tersebut, karena mereka seringkali hanya melihat luarnya saja, melihat secara garis besarnya saja. Namun walaupun mereka dapat melihat susunan bagian-bagiannya mereka tetap dapat melihatnya sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh dan saling terkait membentuk movement.

Terkait dengan apa yang ingin diperlihatkan dari susunan kesatuan tersebut yakni sebuah kemurnian yang terpancar dari bagian terdalam, maka penempatan dari benda yang saya buat ini adalah pada sebuah tempat yang terkena sinar matahari sehingga sinar tersebut seolah-olah membantu memancarkan apa yang belum terlihat di dalamnya. Dan dari sini saya ingin keeleganan tersebut dapat terbentuk dan tersampaikan bagi pandangan mata orang yang melihatnya.

Daftar Pustaka

Architectural Design (2007). Elegance: Arguing for Elegance.
www.answers.com